Resume Makalah Pemikiran Fazlurrahman Tentang Pendidikan

Nama : Muntadhar
Jurusan : Manajemen Pendidikan
RESUME PEMIKIRAN FILOSOFI FAZLURRAHMAN TENTANG PENDIDIKAN

Fazlurrahman Lahir pada tanggal 21 September 2019 di daerah Hazara, (anak benua India) yang sekarang terletak di sebelah barat Laut Pakistan. Ayahnya bernama Maulana Sahab Al Din lulusan Deoband. Keluarga rahman sangat Islami sehingga dalam usia 10 tahun, Rahman telah menghafal Al Qur’an 30 Juz. Karya-karya Rahman, antara lain: Avicenna’s Psychology, Avicenna’s De Anima, Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy.

Pemikiran Fazlurrahman
a. Epistemologi
Pengertian Pengetahuan, menurut Rahman menjelaskan bahwa istilah ilmu itu, pada awalnya, lebih diterima tradisionalis dari pada rasional., terutama dalam sejarah Islam. Sehubungan dengan itu, arti kata ilm ini mengarah pada sabda nabi “talabul ‘ilmi”, atau menuntut ilmu. Kemudian dizaman sesudah Islam (terutama pada zaman modern ini), perkataan tersebut dipergunakan secara umum, secara historis tidak dapat diragukan bahwa perkatan tersebut lahir dari kalangan tradisionalis dengan makna sebagaimana telah disebutkan tadi.
Talabul ‘ilmi berarti proses perjalanan yang lama dan sukar dari suatu tempat ketempat lain, dari suatu negeri ke negeri lain duduk takzim menghadap seorang guru tradisional dan menerima tradisi dari sang guru. Selanjutnya penggunaan istilah “pengetahuan” semakin meluas. Misalnya terdapat ungkapan yang terkenal, seperti ada dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan mengenai agama dan pengetahuan mengenai tubuh.
Fazlurrahman mengklasifikasi pengetahuan manusia pada 3 jenis, yaitu:
- Pengetahuan tentang alam, pengetahuan tentang alam yang telah diciptakan untuk manusia, seperti pengetahuan fisik.
- Pengetahuan tentang sejarah, Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengadakan perjalanan dimika bumi dan menelaah apa yang telah terjadi pada peradaban masa lalu dan mengapa mereka bangkit kemudian jatuh.
- Pengetahuan tentang manusia. Al-Qur’an menyebutkan, “kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah tuhanmu tidak cukup bagimu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushilat: 53)

b. Metodologis
Metodologi Fazlur Rahman Tiga metodologi yang dikembangkan oleh Rahman, yaitu:
1. Metode Kritik Sejarah (The Critical History Method)
Rahman banyak menerapkan metode kritik sejarah dalam melakukan penelitian terhadap pendidikan didunia Islam. Metode kritik sejarah yang diterapkan oleh Rahman tidak menekankan pada kronologi berjalannya pendidikan didunia Islam, tetapi menekankan pada nilai-nilai yang terkandung dalam data-data sejarah.
Secara spesifik metode ini diterapkan dengan cara mendiskripsikan nilai-nilai sejarah pendidikan umat Islam terutama yang terjadi di Turki, Mesir, Iran, Pakistan, dan Indonesia, kemudian sesekali Rahman melakukan komparasi diantara pendidikan di negara-negara tersebut.
2. Metode Penafsiran Sistematis (The Systematic interpretation method)
Metode ini terdiri atas tiga langkah utama, yaitu: 1). Pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Qur’an dalam bentangan karier dan perjuangan nabi. 2). Antara ketetapan legal dan sasaran serta tujuan al-Qur’an. 3). Memahami dan menetapkan sasaran alQur’an dengan memperhatikan secara penuh latar belakang sosiologisnya.
3. Metode Suatu Gerakan Ganda (a Double Movement)
Metode ini bisa dilakukan dengan Membawa problem- problem umat (sosial) untuk dicarikan solusinya pada al-Qur’an dan Memaknai al-Qur’an dalam konteksnya dan memproyeksikannya kepada situasi sekarang atau masa depan.

Tentang Pendidikan Islam
Menurut Fazlur Rahman, pendidikan Islam ketika masa Rasulullah menerapkan metode membaca dan menulis, tetapi yang paling lazim adalah menghafal al-Qur’an dan al-Hadis. Namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan intelektual. Kemudian pada masa abbasiyah, khalifah-khalifah tertentu, seperti Harun al- Rayid dan al-Makmun menekankan adu pendapat diantara para pelajar di istana mengenai persoalan logika, hukum, gramatika, dan sebagainya.
Pendidikan Islam menurutnya dapat mencakup dua pengertian besar. Pertama, pendidikan Islam dalam pengertian praktis, yaitu pendidikan yang dilaksanakan didunia Islam seperti yang diselenggarakan dipakistan, Mesir, Sudan, Saudi, Iran, Turki, Maroko, dan sebagainya, mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.
Namun, jika kita menelusuri dan menyelaras pemikiran Fazlur rahman dengan konteks pendidikan Islam di Indonesia, meliputi pendidikan dipesantren, di madrasah (mulai dari ibtidaiyah sampai aliyah), dan diperguruan tinggi Islam, bahkan bisa juga pendidikan agama Islam disekolah (sejak dari dasar sampai lajutan atas) dan pendidikan agama Islam.
Kedua, pendidikan tinggi Islam yang disebut dengan intelektualisme Islam. Lebih dari itu, pendidikan Islam menurut Rahman dapat juga dipahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia (ilmuwan) integratif, yang padanya terkumpul sifat-sifat seperti kritis, kreatif, dinamis, inovatif, progresif, adil, jujur, dan sebagainya.
Tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif, yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keteraturan dunia.
Materi pendidikan menurut Fazlur Rahman meliputi mebaca dan menulis, berhitung, Al-Qur’an, al-hadits, komentar dan superkomentar, fiqih, Illahiyah, adab, thabi’iyah, dan astronomi. Rahman, melihat dengan penyempitan lapangan ilmu pengetahuan umum melalui tiadanya pemikiran umum dan sain-sain kealaman, maka kurikulum dengan sendirinya menjadi terbatas pada ilmu-ilmu keagamaan murni dengan gramatika dan kesusasteraan sebagai alat-alatnya yang memang diperlukan. Mata pelajaran keagamaan murni yang disebut Rahman adalah Hadits atau Tradisi, Fiqh atau Hukum (termasuk ‘Ushul al-Fiqh atau Prinsip-prinsip Hukum), Kalam atau theologi, dan Tafsir atau eksegesis al-Qur’an. Dibanyak madrasah sayap kanan Ahl al-Hadits, bahkan theologi dicurigai, maka dengan sendirinya hanya tiga mata pelajaran.
Selanjutnya, metode pembelajaran abad pertengahan: membaca dan mengulang-ulang sampai hafal. Metode demikian ini menurut Fazlur Rahman dikenal dengan metode belajar secara mekanis, pada saat itu sekolah tidak melaksanakan ujian akhir tahun tetapi peserta didik bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan rekomendasi guru-gurunya. Dalam berbagai bentuk menurut Fazlur Rahman pendidikan Islam ketika zaman pertengahan menerapkan metode membaca dan menulis, tetapi yang paling lazim adalah menghafal Al-Qur;an dan Al-hadits, namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan intelektual.

Pembaharuan Pendidikan Islam
Secara mendasar pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat dilakukan dengan menerima pendidikan, kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep Islam. Menurut Fazlur Rahman, pembaharuan dilakukan dengan cara:
1. Membangkitkan ideologi umat Islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2. Berusaha mengikis dualisme system pendidikan tradisional (agama), dan pada sisi lain ada pendidikan modern (sekuler). Kedua sistem ini sama-sama tidak beres. Karena itu perlu ada upaya mengintegrasikan keduanya.
3. Menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebgai alat untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. Menurut Rahman umat Islam adalah masyarakat tanpa bahasa karena lemah di bidang bahasa.
4. Pembaharuan di bidang metode pendidikan Islam yaitu dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis.

:: == TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG SAYA, Blog ini hanya kumpulan catatan dan koleksi pribadi. Maaf bila ada artikel lain yang dikutip diblog ini, karena artikel tersebut merupakan hasil bacaan saya dan menarik waktu saya baca. Jika ada kendala, kritik, saran silakan hubungi saya: muntadhar.umar[at]gmail.com